Jumat, 27 Februari 2009
Semakin Optimis
Sepertinya saya tidak salah pilih untuk bisnis pertama ini. Selimut yang saya pesan berkualitas sangat tinggi. Setiap orang yang menyentuh, bisa dibilang 90% pasti mengambil atau memesan model atau corak yang di katalog. Apalagi yang 100% acrylic. Kelembutannya tak tertandingi.
Rabu, 25 Februari 2009
Tangan Di Bawah, sebuah batu loncatan menuju Tangan Di Atas
Saat dalam perjuangan menuju TDA, saya menyadari betapa posisi saya saat ini yang masih TDB merupakan sebuah batu pijakan penting untuk menuju TDA. Buat teman-teman yang masih TDB seperti saya, dapat memanfaatkan sisa-sisa waktu terakhir di ranah TDB untuk mereguk ilmu yang pastinya sangat berguna nanti.
Saya ambil contoh.
Saya bekerja saat ini di sebuah BUMN Farmasi terbesar di Indonesia, meskipun hanya lulusan SMF ( Sekolah Menengah Farmasi ) saya sudah pindah - pindah bagian di kantor. Awalnya menjadi Salesman, rotasi jadi Penanggungjawab Gudang, balik ke Salesman, Jadi Supervisor Penjualan Reguler dan Akhirnya dimutasi ke Kota Padang sebagai Staf Tender.
Pengalaman di beberapa bagian yang berbeda membuat saya memiliki pengalaman yang beragam dalam bidang distribusi. Karena umumnya TDA adalah Entrepreneur alias Pengusaha, pengalaman saya sebagai Salesman dan Supervisor Penjualan Reguler menjadikan saya lebih luwes dalam bergaul dan menghadapi pelanggan.
Begitu juga pengalaman menjadi Penanggungjawab gudang membuat saya mengerti mengenai level stok barang. Mengapa ini penting.? Karena untuk menjadi TDA yang dimulai dari bawah, pastinya kita awalnya cukup banyak terlibat mengembangkan usaha sampai usaha kita besar dan bisa kita lepas beroperasi tanpa kita terlalu campur tangan.
Nah, kalau Posisi saya sebagai staf tender membuat saya belajar banyak hal tentang negosiasi dan estimasi.
Jadi buat teman-teman yang saat ini resah ingin menjadi TDA, jangan terlalu larut dalam keresahan itu, tapi optimalkan kesempatan kita saat TDB ini belajar banyak hal. Dan begitu kita siap, Hap.!! Sambar peluang segera menjadi TDA dan segera ajukan surat "Pemajuan Diri" alias Resign.
Apapun yang terjadi, harus disyukuri..!
Saya ambil contoh.
Saya bekerja saat ini di sebuah BUMN Farmasi terbesar di Indonesia, meskipun hanya lulusan SMF ( Sekolah Menengah Farmasi ) saya sudah pindah - pindah bagian di kantor. Awalnya menjadi Salesman, rotasi jadi Penanggungjawab Gudang, balik ke Salesman, Jadi Supervisor Penjualan Reguler dan Akhirnya dimutasi ke Kota Padang sebagai Staf Tender.
Pengalaman di beberapa bagian yang berbeda membuat saya memiliki pengalaman yang beragam dalam bidang distribusi. Karena umumnya TDA adalah Entrepreneur alias Pengusaha, pengalaman saya sebagai Salesman dan Supervisor Penjualan Reguler menjadikan saya lebih luwes dalam bergaul dan menghadapi pelanggan.
Begitu juga pengalaman menjadi Penanggungjawab gudang membuat saya mengerti mengenai level stok barang. Mengapa ini penting.? Karena untuk menjadi TDA yang dimulai dari bawah, pastinya kita awalnya cukup banyak terlibat mengembangkan usaha sampai usaha kita besar dan bisa kita lepas beroperasi tanpa kita terlalu campur tangan.
Nah, kalau Posisi saya sebagai staf tender membuat saya belajar banyak hal tentang negosiasi dan estimasi.
Jadi buat teman-teman yang saat ini resah ingin menjadi TDA, jangan terlalu larut dalam keresahan itu, tapi optimalkan kesempatan kita saat TDB ini belajar banyak hal. Dan begitu kita siap, Hap.!! Sambar peluang segera menjadi TDA dan segera ajukan surat "Pemajuan Diri" alias Resign.
Apapun yang terjadi, harus disyukuri..!
Selasa, 24 Februari 2009
Sebuah Harapan
"Bang.... Alhamdulillah selimut kita laku semua, dan ada tambahan pesanan dari teman2 Uni (kakak perempuan) di Cendana (Yayasan Pendidikan PT.Chevron).. " Suara Isteri saya diseberang telepon terdengar ceria.
Sejak minggu II Pebruari 2009 Isteri saya memang tinggal di rumah kakaknya di Pekanbaru - Riau. Keputusan ini memang tiba-tiba saja karena selimut jepang yang dibawa ternyata tidak laku banyak, malah yang laku itu yang ada di katalog. Maklumlah, selera kami ternyata jauh berbeda dengan selera pelanggan. Dan model yang dipesan dari katalog terpaksa harus dikirimkan ke Pekanbaru. Jadi Isteri saya menunggu kiriman datang, sementara saya balik ke Padang untuk kembali bekerja seperti biasa.
Telepon isteri saya itu merupakan pesanan ketiga pesanan kami ke Pekanbaru. Ternyata pasar Pekanbaru ( daerah panas ) lebih menjanjikan daripada di Bukittinggi yang notabene adalah daerah dingin. "Mungkin karena tingkat perekonomian Pekanbaru lebih tinggi daripada Bukittinggi" begitu saya menduga-duga. Saya akan memikirkan penjualan secara kredit di Bukittinggi apabila modal sudah agak besar.
Sejak minggu II Pebruari 2009 Isteri saya memang tinggal di rumah kakaknya di Pekanbaru - Riau. Keputusan ini memang tiba-tiba saja karena selimut jepang yang dibawa ternyata tidak laku banyak, malah yang laku itu yang ada di katalog. Maklumlah, selera kami ternyata jauh berbeda dengan selera pelanggan. Dan model yang dipesan dari katalog terpaksa harus dikirimkan ke Pekanbaru. Jadi Isteri saya menunggu kiriman datang, sementara saya balik ke Padang untuk kembali bekerja seperti biasa.
Telepon isteri saya itu merupakan pesanan ketiga pesanan kami ke Pekanbaru. Ternyata pasar Pekanbaru ( daerah panas ) lebih menjanjikan daripada di Bukittinggi yang notabene adalah daerah dingin. "Mungkin karena tingkat perekonomian Pekanbaru lebih tinggi daripada Bukittinggi" begitu saya menduga-duga. Saya akan memikirkan penjualan secara kredit di Bukittinggi apabila modal sudah agak besar.
Senin, 23 Februari 2009
Big Hip
Akhirnya saya menemukan sebuah titik terang.. Lagi iseng2 ngobrol sama sepupu, saya: Nino , saya diberikan link Pak Hadi untuk jualan Selimut Jepang.. Entah kenapa rasanya kok tertarik banget.
Dengan ragu-ragu saya coba bikin pesanan awal sebesar Rp.2 juta. Duit inipun sebenarnya hutang yang mau dibayarkan ke orang, tapi saya minta tangguh dulu satu bulan lagi, dan Alhamdulillah bisa.
Ini merupakan sebuah lompatan besar karena biasanya saya paling takut untuk memulai sebuah usaha. Apapun bentuknya. Saya lebih nyaman membayangkan menerima gaji bulanan dan tunjangan - tunjangan ini-itu dari kantor
Dengan ragu-ragu saya coba bikin pesanan awal sebesar Rp.2 juta. Duit inipun sebenarnya hutang yang mau dibayarkan ke orang, tapi saya minta tangguh dulu satu bulan lagi, dan Alhamdulillah bisa.
Ini merupakan sebuah lompatan besar karena biasanya saya paling takut untuk memulai sebuah usaha. Apapun bentuknya. Saya lebih nyaman membayangkan menerima gaji bulanan dan tunjangan - tunjangan ini-itu dari kantor
Resah
Setiap hari di kantor terasa siksaan yang mendera otak. Saya tidak habis pikir kenapa ini terjadi. Hirarki di kantor yang sangat kental membuat kita terasa seperti di jaman Foedal Belanda.
Bayangkan.. saat saya menulis pesan via Facebook kepada salah seorang pimpinan / Direktur, seisi kantor bahkan di kantor pusat sampe heboh.. Saya dianggap lancang karena berani-beraninya kirim pesan langsung sama Direktur. Lha Tuhan aja malah nyuruh tiap sebentar digangguin minta ini-itu.
Ini makin membulatkan tekad saya untuk segera Resign.
Bayangkan.. saat saya menulis pesan via Facebook kepada salah seorang pimpinan / Direktur, seisi kantor bahkan di kantor pusat sampe heboh.. Saya dianggap lancang karena berani-beraninya kirim pesan langsung sama Direktur. Lha Tuhan aja malah nyuruh tiap sebentar digangguin minta ini-itu.
Ini makin membulatkan tekad saya untuk segera Resign.
Rabu, 18 Februari 2009
Penutup...
Ini adalah Blog catatan saya menjadi seorang milyuner, saat ini saya masih di kuadran E dan jiwa saya sangat resah dengan keadaan saat ini. Maklumlah, seorang pegawai dengan gaji pas-pasan memang kurang akrab dengan yang namanya duit.
Duit cuma mampir tiap gajian dan pergi seperti asap mengepul keluar dari kantong..
Berangkat dari hal itu, saya memutuskan untuk menutup kehidupan saya yang menyebalkan ini dan bertekad untuk merubahnya.
Apa yang melatarbelakangi.? terus terang saya terjangkit virus yang membuat saya demam parah setelah saya ikut seminar Purdi E Chandra : Cara Gila Jadi Pengusaha pada tanggal 12 Pebruari 2009.
Blog ini saya buat untuk mencatat perjalanan saya dari seorang kere menjadi seorang Milyuner Indonesia.
Hmmm.. kenapa Milyuner.? kok kayaknya ketinggian gitu ya..??
Saya Jelaskan..
Purdi E Chandra pernah bilang : "Jangan batas-batasi diri kalau bermimpi, toh mimpi nggak bayar.. saya pernah bilang nggak mungkin beli mobil diatas 1 Milyar, sampai sekarang terbukti kalau harga mobil saya tertinggi cuma Rp.999 juta" Nah lho.!
Kan nggak lucu kalau saya tulis blog " Jutawan Indonesia" lalu saya hanya bisa mencapai Rp.999 juta... hehehe
Duit cuma mampir tiap gajian dan pergi seperti asap mengepul keluar dari kantong..
Berangkat dari hal itu, saya memutuskan untuk menutup kehidupan saya yang menyebalkan ini dan bertekad untuk merubahnya.
Apa yang melatarbelakangi.? terus terang saya terjangkit virus yang membuat saya demam parah setelah saya ikut seminar Purdi E Chandra : Cara Gila Jadi Pengusaha pada tanggal 12 Pebruari 2009.
Blog ini saya buat untuk mencatat perjalanan saya dari seorang kere menjadi seorang Milyuner Indonesia.
Hmmm.. kenapa Milyuner.? kok kayaknya ketinggian gitu ya..??
Saya Jelaskan..
Purdi E Chandra pernah bilang : "Jangan batas-batasi diri kalau bermimpi, toh mimpi nggak bayar.. saya pernah bilang nggak mungkin beli mobil diatas 1 Milyar, sampai sekarang terbukti kalau harga mobil saya tertinggi cuma Rp.999 juta" Nah lho.!
Kan nggak lucu kalau saya tulis blog " Jutawan Indonesia" lalu saya hanya bisa mencapai Rp.999 juta... hehehe
Langganan:
Postingan (Atom)